BERBAGI

Purwakarta,SinarJabar – Keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dapat memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi perekonomian Desa.

Dengan BUMDes, satu desa dengan desa lain tidak akan saling berkompetisi, melainkan saling melengkapi. Sebab, ada pertukaran potensi dan produk unggulan dari masing-masing desa tersebut.

Seperti di Kabupaten Purwakarta. Tepatnya di Desa Pasirmunjul Kecamatan Sukatani, terdapat BUMDes yang diberi nama Pinunjul, yang konsen mengelola sorgum atau gandum. Keberadaan bahan baku yang melimpah di desa tersebut dimanfaatkan warga setempat dengan hasil akhir berupa produksi bahan makanan dari gandum.

Kepala Desa Pasirmunjul, Muhammad Hilman Nurzaman mengatakan, BUMDes Pinunjul diharapkan bisa menjadi pilar salah satu kesejahteraan warga.

“Ini adalah usaha yang didirikan atas dasar komitmen bersama masyarakat desa, untuk saling bekerja sama, gotong-royong, galang kekuatan ekonomi untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat desa,” ujar Hilman, Minggu (15/6/219).

Menurutnya, payung hukum badan usaha tersebut sudah jelas, pemerintah telah menerbitkan Permendesa Nomor 4 tahun 2015 tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan, dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa, yang menjadi pedoman bagi daerah dan desa dalam pembentukan dan pengelolaan BUMDes.

“BUMDes sebagai badan usaha, seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan desa,” kata Hilman.

Dia katakan berikutnya, pengembangan BUMDes merupakan bentuk penguatan terhadap lembaga-lembaga ekonomi desa serta merupakan alat pendayagunaan ekonomi lokal dengan berbagai ragam jenis potensi yang ada di desa.

“Lebih dari itu BUMDes juga diharapkan menjadi tulang punggung perekonomian pemerintahan desa guna mencapai peningkatan kesejahteraan warga,” demikian Hilman.

Direktur BUMDes Pinunjul Desa Pasirmunjul Kecamatan Sukatani, Sayoga Edi Purwanto mengatakan, tanaman sorgum ditangan para petani Desa Pasirmunjul dapat diolah menjadi nasi, tepung, popcorn, kue, simping, tape sorgum dan lainnya.

“Salah satu hal yang mendorong para petani membudidayakan sorgum adalah karena letak geografis yang cocok dan strategis untuk ditanami sorgum. Tanaman sorgum ini dapat ditanam diberbagai jenis tanah dan tidak sulit ditanam dimanapun,” kata Sayoga.

Menurutnya, hal itu berawal dari kebiasaan masyarakat yang suka bertani sorgum, lalu didukung oleh BUMDes yang juga mempunyai rencana bertani sorgum.

“Selalin mudah ditanam, sorgum juga banyak juga manfaatnya. Kami menanam sorgum di tanah dekat desa, sejak 2018 lalu,” katanya.

Namun demikian, pihaknya masih menemukan sejumlah kendala, yaitu alat pendukung panen dan soal pemasaran.

“Dari kendala-kendala yang ada, kami mendapatkan beberapa solusi, misalnya dalam kendala alat-alat untuk panen kami menggunakan alat atau perkakas biasa yang sering dipakai untuk berkebun, begitupun kendala dalam pemasaran saat ini kami sedang berusaha mempublikasikan bahwa didaerah kami terdapat pertanian sorgum dan pengelolaan hasil sorgum yang banyak manfaatnya,” demikian Sayoga. (red)

LEAVE A REPLY