BERBAGI

Purwakarta,SinarJabar – Kabupaten Purwakarta menjadi lokasi studi banding dari Institute of Geography and Regional Research untuk melihat transformasi perkotaan dan sosial-ekonomi serta pembentukan kota-kota baru di Indonesia.

Universitas dari Wina Austria itu memilih Purwakarta untuk mengetahui potensi dan hambatan atau kendala investasi yang ada di dekat Jakarta sebagai Ibu Kota negara.

Rombongan yang dipimpin Commercial Attache Kedutaan Besar Austria di Indonesia, Michael Dobersberger akan berkunjung ke PT. South Pacific Viscose (SPV) di Desa Cicadas Kecamatan Babakan Cikao, Purwakarta sebagai investasi Lenzing AG dari Austria, yang merupakan investasi terbesar Austria di Indonesia.

“SPV sebagai produsen serat alami berbahan baku dari kayu atau dalam perdagangan global sering disebut sebagai natural man made fiber menunjukan bahwa Indonesia sebagai negara yang ramah investasi dari luar negeri serta Purwakarta sebagai lokasi industri yang terintegrasi di semua aspek pendukungnya,” Head of Corporate Affairs PT. South Pacific Viscose, Widi Nugroho Sahib kepada awak media, Kamis (4/7/2019).

Menurut Widi, rombongan juga mengunjungi Kantor Pemerintah Desa Cicadas serta lokasi CSR binaan PT. South Pacific Viscose.

“Mereka melihat pertanian sayuran dan buah-buahan dengan metode hidroponik serta Bank Sampah Mandiri di Kampung Ciasem yang semuanya bernaung dalam kegiatan Eco Village dan berhasil meraih Eco Village Award 2019 dari Bapak Ridwan Kamil selaku Gubernur Jawa Barat,” tuturnya.

Sementara, Michael Dobersberger mengatakan bahwa PT. South Pacific Viscose sebagai anak perusahaan Lenzing Group adalah tempat yang cocok untuk mahasiswa dari Universitas Wina untuk dapat  melihat langsung kerjasama Indonesia dan Austria,  sekaligus mendapat informasi langsung tentang investasi di Indonesia.

“PT. South Pacific Viscose sebagai investasi asing terbesar dari Austria dan perusahaan terkemuka di Indonesia, yang juga merupakan salah satu perusahaan panutan karena mengutamakan kesinambungan (sustainability) dan nilai tambah lokal ( local added value), serta terus berkontribusi membantu tumbuh-kembang industri tekstil Indonesia,” demikian Michael. (red)

LEAVE A REPLY