BERBAGI

SINARJABAR, PURWAKARTA.- Keunikan di Tajug Gede Cilodong, ada sembilan orang muadzin dengan suara merdu, dan sembilan bedug yang merupakan tradisi Nusantara, yang menggambarkan sembilan dari wali sanga.

Ke enam orang Muadzin tajug gede tersebut adalah alumni Pondok Pesantren Raudlatut Tarbiyyah Liunggunung plered, yang berprestasi melalui seleksi audisi muadzin, dari ke enam muadzin tersebut adalah : Ahmad Munazat, Ape Hasanudin, Idin Syahidin, Ahmad Jaelani, Nurzain dan Dede Saepul Anwar.

Tajug Gede Adalah salah satu masjid kebanggaan masyarakat purwakarta, yang bernuansa unik dan memunculkan berbudaya nusantara, masjid ini di dirikan oleh Kang H. Dedi Mulyadi ( Bupati pwk Ketika itu ).

Masjid Tajug Gede, di samping tempat Ibadah dan kajian Islam, banyak juga masyarakat purwakarta dan sekitarnya, yang berwisata religi kesana, melihat keindahan Air mancur dan taman. masyarakat merasa bahagia dan bangga karena bisa beribadah sambil berwisata.

Muadzin Tajug Gede, tidak hanya melaksanakan Adzan saja, tetapi kita multi fungsi, bisa menjadi imam sehari hari, dan mengurus pengajian anak anak dan pengajian Ibu ibu. Para Muadzin pun di jadwal melaksanakanakn giliran adzan, Tutur Ust. Idin Syahidin.

Menurut Ust. Ahmad Munazat, yang merupakan Mudzir/ Ketua dari sembilan orang muadzin lainnya, dia pun tidak hanya menjadi Muadzin di tajug gede saja, tetapi menjadi muadzin di Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta, menurut dia saya bangga bisa menjadi bagian yang bisa memakmurkan masjid, karena ini bagian dari lahan da’wah kepada masyarakat, kami para muadzin punya aktivitas selain muadzin di tajug gede, kami di rumah masing masing mengurus madrasah dan pesantren.

Di tempat yang berbeda, di kediamannya, Guru sekaligus Pimpinan Pesantren Raudlatut Tarbiyyah Liunggunung KH Anwar Nasihin, mengutarakan bahwa kami bersyukur mempunyai Santri Alumni yang bisa berkifrah di bidang qiro’ah, walaupun suara saya pas pasan, ( red. sambil tersenyum). Tapi Alhamdulillah santri saya bagus bagus suaranga, bahkan Ada yang bertanya kepada saya kenapa santri Liunggunung banyak yang bagus suaranya, kata saya karena metode pembelajaran di Pesantren Liunggunung punya metode tersendiri, walapun pesantren kami pesantren salafiyah ( Tradisional ), tidak banyak santri dan tidak megah bangunannya kami lebih mengutamakan mutu dan kualitas pendidikan santri.

Alumni pesantren kami selain banyak yang menjadi Ajengan, ada juga yang menjadi pemain sepak bola Timnas bahkan terpilih menjadi pemain sepak bola di Inggris, ada juga yang menjadi Atlet Pencak silat.

Intinya, Silahkan saja santri mau menjadi apapun, sepanjang ada maslahat dan manfaatnya untuk umat. Tutur Kyai Anwar sebutan akrabnya.

Saya tidak pernah menekankan kepada santri untuk menjadi ahli di satu profesi, bebas silahkan, tetapi saya berharap kepada para santri, kelak kamu bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang banyak.

Pesantren Liunggunung sebenarnya lebih berkonsentrasi di bidang ilmu Nahwu dan Shorof, tetapi kalaupun ada santri yang faham Ilmu qiroat dan langgam, di pesantren Liunggunung pun meyediakan Guru yang ahli Qori dan Takhassus di bidang Al Quaran.

Menurut Anwar Pesantren kami, pesantren kecil, dengan jumlah santri kurang dari 500 orang, maka dengan jumlah santri yang tidak banyak kami bisa lebih fokus mengurus santri sehari hari. Bahkan di tahun ini, kami tidak bisa menerima jumlah santri dari 400 orang, karena ruangan dan kamar santri yang tidak memadai. Walaupun demikian, Saya tidak pernah meminta dan memaksakan kepada pihak manapun untuk membangun asrama santri, kita seadanya saja, tetapi harus terus berikhtiar agar pesantren bisa mandiri dan produktif. (red)

LEAVE A REPLY