Asep Saepudin Buktikan Keterbatasan Fisik Bukan Penghambat Berkarya

  • Bagikan
Aep Saepudin penyandang difabel yang membuat berbagai macam kerajinan dari bambu. (Foto: Istimewa)

SINARJABAR, PURWAKARTA – Aep Saepudin seorang pria penyandang diffable warga kampung Sukamaju, RW 06/RT 11, Desa/Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mampu membuat berbagai produk kerajinan dari bahan limbah bambu.

Meski dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya, tak menyurutkan semangat pria berusia 40 tahun itu untuk terus berkarya.

Produk kerajinannya yakni, mulai dari lampu hias, sangkar burung, miniatur kapal pesiar, dan kapal pinisi hingga produk kerajinan lainnya, hasilnya pun terbilang keren.

Meski tidak bisa berjalan normal, Aep tetap penuh semangat dalam menjalankan aktivitasnya. Untuk menunjang hal tersebut, dirinya mengandalkan kedua tongkat agar dapat berjalan ke sana kemari.

Aep mengaku, dirinya terinspirasi untuk membuat berbagai jenis kerajinan tersebut karena di tengah keterbatasan yang dimiliki, dirinya ingin tetap bisa berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain serta memiliki nilai ekonomis.

Baca juga :  Jadwal dan Lokasi SIM Keliling Jakarta-Bogor-Bandung-Purwakarta

Dengan cara ini, Aep bisa hidup mandiri bahkan juga bisa menghidupi dirinya dan istri tanpa mengharapkan belas kasih dari orang lain.

Awalnya, Aep hanya membuat sangkar burung, lalu membuat berbagai jenis miniatur hingga produk kerajinan lainnya.

“Kalau membuat sangkar burung itu mulai 2011 dan semenjak adanya pandemi Covid-19 saya mulai membuat kerajinan lain seperti miniatur kapal pinisi, dudukan lampu, dan lainya. Awal hasil pembuatan belum rapi. Terus dipelajari dan coba membuat lagi. Jangan menyerah dan terus berusaha,” ucap Aep, saat ditemui di kediamannya, pada Rabu, 4 Agustus 2021.

Baca juga :  Rotasi Kapolsek dan PJU Polres Purwakarta, Berikut Daftarnya

Ia menambahkan, berbagai produk kerajinannya lantas di perjual belikan secara online ke berbagai kota ataupun melalui teman-temannya. Untuk harganya sendiri berkisar dari yang termurah senilai Rp50 ribu hingga termahal senilai Rp500 ribu.

“Saat ini untuk pembuatan sangkar burung berhenti sementara, jadi fokus membuat beragam produk kerajinan lain. Untuk sangkar burung saya pernah kirim ke Sumatera, tapi kalau kerajinan miniatur seperti kapal pinisi ini baru di Jawa Barat saja,” ungkapnya.

Soal keterbatasan fisik, ia sedikit bercerita, terjadi sejak dirinya masih berusia 2 tahun, yang jatuh dari ayunan.

“Jadi pada usia dua tahun, kata orang tua saya terjatuh dari ayunan dan mengakibatkan saya tidak bisa berjalan,” cerita Aep.

Baca juga :  Keren, Polri Libatkan Juru Bahasa Isyarat Dalam Setiap Konferensi Pers

Namun, hal itu tidak membuatnya patah semangat. Menurutnya, kekurangan bukan menjadi kendala untuk berkarya.

“Awalnya sih saya minder dengan keterbatasan ini, namun perlahan rasa minder itu hilang dan saya memiliki tekad untuk berkarya serta tak mau mengandalkan belas kasihan dari orang lain,” tuturannya

Aep memang memiliki hobi berkreasi sejak dulu, seperti membuat layang- layang, kandang ayam, sangkar burung. Meski belum banyak menghasilkan, Aep tetap optimistis dengan usaha yang dirintis ini akan berkembang.

“Bagi saya, keluarga adalah sumber inspirasi untuk terus berjuang. Saya pun memiliki cita-cita ingin mengajak teman-teman sesama difabel dalam usaha yang saya lakoni ini,” tungkasnya. (Alf/rzl)

  • Bagikan